Saya masih ingat betapa bersemangatnya saya pertama kali mencoba aplikasi AR di ponsel - mengarahkan kamera ke ruang tamu dan melihat furnitur virtual muncul seolah benar-benar ada di sana rasanya seperti melihat masa depan datang lebih cepat. Tapi beberapa bulan kemudian, aplikasi-aplikasi itu diam-diam menghilang dari layar depan ponsel saya, tergeser aplikasi lain yang lebih sering saya buka. Ini cerita tentang kenapa itu terjadi, dan mungkin pengalaman ini terasa familiar bagi sebagian pembaca juga.

Awal yang Penuh Euforia

Di awal, semua terasa menakjubkan. Mencoba filter wajah yang berubah bentuk secara real-time, mengukur ruangan hanya dengan mengarahkan kamera, atau melihat preview cat dinding sebelum benar-benar membeli - semuanya terasa seperti sihir kecil yang muncul dari saku saya sendiri. Saya cukup sering memamerkannya ke teman-teman, dan untuk sementara waktu AR benar-benar terasa seperti fitur andalan ponsel saya.

Baterai yang Cepat Terkuras

Masalah pertama yang saya sadari adalah betapa borosnya aplikasi AR terhadap baterai. Menyalakan kamera terus-menerus sambil menjalankan pemrosesan grafis dan pelacakan ruang secara bersamaan membuat ponsel saya cepat panas dan baterainya turun drastis hanya dalam beberapa menit pemakaian. Untuk sesuatu yang sifatnya sekadar iseng atau hiburan sesaat, biaya baterai ini terasa tidak sepadan - apalagi kalau saya sedang bepergian dan perlu menghemat daya untuk hal lain yang lebih penting.

Rasa Canggung Memegang Ponsel di Udara

Ada juga faktor sosial yang jarang dibahas: rasanya cukup canggung berdiri di tengah toko atau ruang publik sambil mengacungkan ponsel ke berbagai arah untuk melihat overlay AR. Orang-orang di sekitar sering melirik dengan bingung, dan saya sendiri jadi merasa terlalu sadar diri untuk benar-benar menikmati pengalamannya. Berbeda dengan menonton video atau membaca pesan yang terasa wajar dilakukan di mana saja, menggunakan AR di ponsel terasa seperti melakukan sesuatu yang "mencolok" - dan lama-lama saya jadi enggan melakukannya di depan orang lain.

Kegunaan yang Ternyata Terbatas

Alasan paling jujur, mungkin, adalah bahwa sebagian besar aplikasi AR yang saya coba tidak benar-benar menyelesaikan masalah nyata dalam hidup saya sehari-hari. Fitur mengukur ruangan memang berguna sesekali, tapi tidak cukup sering saya butuhkan untuk membuka aplikasinya secara rutin. Filter dan game berbasis AR seru di awal, tapi kesenangannya cepat memudar setelah rasa baru hilang. Pada akhirnya saya sadar bahwa saya lebih sering kembali ke cara-cara lama yang lebih cepat dan sederhana - mengukur pakai meteran fisik, membayangkan tata letak furnitur di kepala, atau sekadar mencoba baju langsung di toko.

Bukan Berarti AR Gagal

Berhenti menggunakan AR di ponsel bukan berarti saya berhenti percaya pada teknologinya. Saya justru masih optimis AR akan menemukan tempatnya yang tepat - mungkin di sektor tertentu seperti industri, kesehatan, atau pendidikan, di mana kasus penggunaannya jauh lebih jelas dan bernilai dibanding sekadar hiburan sesaat di ponsel pribadi. Pengalaman saya ini lebih mencerminkan bagaimana AR di smartphone saat ini masih terasa seperti fitur tambahan yang menyenangkan, bukan kebutuhan sehari-hari - dan itu perbedaan yang menurut saya penting untuk diakui secara jujur, alih-alih memaksakan diri terus memakainya hanya karena terlihat futuristik.